Terdapat 6.000 Hektare Lahan Pertanian di Sigi Kering Karena Kesulitan Air

oleh -423 Dilihat
SHARE :

SIGI, Celebespos.com – Pemerintah Daerah Kabupaten Sigi, menyatakan terdapat kurang lebih 6.000 hektare lahan potensial pertanian yang saat ini kering, karena kesulitan air, disebabkan oleh kerusakan irigasi sebagai sumber utama penyuplai air bagi pertanian di wilayah tersebut.

“Area pelayanan irigasi Gumbasa untuk wilayah Kabupaten Sigi kurang lebih 8.000 hektare lahan pertanian. Saat ini, sehubungan dengan perbaikan irigasi yang dilakukan oleh pemerintah, maka kurang lebih 1.200 hektare lahan pertanian sudah diairi air dari irigasi,“ kata Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan Kabupaten Sigi, Rahmad Iqbal Nurcholis saat berbicara di Podcast Sulteng TV, Kamis (17/2/2022).

Daerah Irigasi Gumbasa terletak di area lembah Palu yang memanjang dari kaki hulu Sungai Gumbasa di Kabupaten Sigi, mengalir hingga Sungai Kawatuna di Kota Palu.

Lanjut, Irigasi ini rusak total karena terdampak gempa dan likuefaksi pada 28 September 2018 silam, yang membuat masyarakat petani kehilangan sumber utama penyuplai air ke lahan-lahan pertanian.

Kadis Tanholrbun ini mengatakan, irigasi tersebut, untuk pelayanan khusus di Kabupaten Sigi mencakup 8.000 hektare lahan pertanian. Dari total area pelayanan itu, saat ini 1.200 lahan pertanian telah diari oleh air irigasi, masih terdapat kurang lebih 6.000 hektare lebih yang belum terairi.

Selanjutnya Pemerintah lewat Kementerian PUPR mulai melakukan pembangunan kembali irigasi sejak tahun 2019 dimulai dari Desa Pandere Kecamatan Gumbasa. Saat ini, irigasi itu telah mengairi air hingga di Desa Kalawara Kecamatan Gumbasa dan beberapa desa di Kecamatan Tanambulava.

Sebagian wilayah yang belum terairi air irigasi, petani di wilayah itu menggunakan sumur dalam dan sumur dangkal, yang dibantu dengan sarana alkon, demi mendapatkan air pertanian. Namun, petani harus beralih dari menanam padi, ke tanaman hortikultura.

“Pasca bencana 28 September 2018 lalu, petani menggunakan air dari sumur dalam dan sumur dangkal, yang merupakan bantuan dari pemerintah pusat, pemerintah daerah, NGO dan relawan,“ ujarnya.

“Sehingga lahan pertanian yang belum terairi air dari irigasi, dapat kembali difungsikan dengan mengandalkan air sumur dangkal dan air sumur dalam,“ imbuhnya lagi.

Pemkab Sigi melalui Dinas Pertanian, sambung Iqbal sapaannya, telah mengajukan usulan ke pemerintah pusat terkait dengan rehabilitasi lahan pertanian, dan pembangunan sumur-sumur pertanian, dengan harapan nantinya dapat diberikan untuk dimanfaatkan oleh petani-petani di Sigi.

Kesulitan itu untuk menghidupkan kembali lahan pertanian, membuat petani di wilayah itu harus beralih profesi dari petani ke buruh kasar.

“Untuk petani yang beralih profesi kami tidak memiliki data yang pasti. Namun untuk Kabupaten Sigi, 80 persen masyarakatnya bergantung dari sektor pertanian. Tentu di beberapa titik wilayah yang belum terairi air irigasi, maka mereka pasti belum mampu untuk melakukan kegiatan bercocok tanam, maka ada intervensi dari pemerintah pusat dan daerah, dibantu oleh NGO dan relawan, agar petani dapat kembali mengolah lahan pertanian mereka“. ungkap Kadis Rahmad Iqbal Nurcholis. (Mat/Kar)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.